Pages

Rabu, 31 Oktober 2012

asal usul Banyumas


Description: E:\Logo_uny.gifMAKALAH TUGAS MANDIRI

ASAL USUL NAMA KABUPATEN BANYUMAS
Diajukan guna memenuhi tugas dalam mata kuliah
FOLKLOR JAWA
Description: E:\Logo_uny.gif

Disusun oleh:
Nama                     : Laeli Nur Hidayatunnikmh
Kelas / NIM           : G PBD / 10205244043

PENDIDIKAN BAHASA DAERAH
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2010/2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.  Makalah ini merupakan tugas mandiri mata kuliah Folklor Jawa yang di berikan oleh Dosen pengajar guna melengkapi tugas akhir semester III.
Dalam makalah ini penulis membahas Asal Usul Terjadinya Kabupaten Banyumas yang bertujuan untuk menambah wawasan tentang terjadinya suatu daerah yaitu Banyumas khususnya mengenai wilayah sendiri, geografis, kependudukan, serta adat istiadat.
Dalam pembuatan makalah ini penulis menyadari adanya berbagai kekurangan baik dalam isi materi maupun penyusunan kalimat. Namun demikian perbaikan merupakan hal yang berlanjut sehingga kritik dan saran untuk penyempurnaan makalah ini sangat penulis harapkan.
Akhirnya penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu saya dalam menyelesaikan makalah tentang asal-usul nama Kabupaten Banyumas. Karena, tanpa bantuan dari kalian semua maka makalah ini tidak akan selesai tepat pada waktunya dan semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Sekian dan terima kasih.



Yogyakarta, 13 Desember 2011
Penyusun Makalah


Laeli Nur Hidayatunnikmah
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Folklor berasal dari kata folklore. Folk berarti kolektif atau kebersamaan. Lore berarti tradisi yang diwariskan secara turun temurun. Jadi secara keseluruhan folklore adalah tradisi kolektif yang suatu bangsa yang disebarkan dalam bentuk lisan, gerak isyarat sehingga tetap berkesinambungan dari generasi ke generasi.
Menurut Alan Dundes kata folk berarti sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok sosial lainnya. Ciri-ciri pengenal itu antara lain, berupa warna kulit, bentuk rambut, mata pencaharian, bahasa, taraf pendidikan, dan agama yang sama. Namun, yang lebih penting lagi adalah bahwa mereka telah memiliki suatu tradisi, yaitu kebudayaan yang telah mereka warisi secara turun-temurun, sedikitnya dua generasi, yang telah mereka akui sebagai milik bersama. Selain itu, yang paling penting adalah bahwa mereka memiliki kesadaran akan identitas kelompok mereka sendiri. Kata lore merupakan tradisi dari folk, yaitu sebagian kebudayaan yang diwariskan secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device). Dengan demikian, pengertian folklor adalah bagian dari kebudayaan yang disebarkan dan diwariskan secara tradisional, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.
B.     Ciri-ciri Folklor
1.      Penyebaran dan pewarisan cerita dilakukan secara lisan
2.      Berkembang dalam masyarakat secara turun-temurun dalam versi yang berbeda-beda
3.      Bersifat anonym
4.      Menjadi milik bersama (kolektif), individu tidak berhak mengklaim
5.      Bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum
C.     Fungsi Folklor
  1. Sebagai system proyeksi, yaitu sebagai alat pencermin angan-angan
  2. Sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga kebudayaan
  3. Sebagai alat mendidik anak
  4. Sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi






Description: E:\Logo_uny.gif
















BAB II
KABUPATEN BANYUMAS

A.    Letak Geografis
Wilayah Kabupaten Banyumas terletak di sebelah Barat Daya & merupakan bagian dari Propinsi Jawa Tengah. Terletak di antara garis Bujur Timur 108° 39' 17'' sampai 109° 27' 15'' & di antara garis Lintang Selatan 7° 15' 05'' sampai 7° 37' 10'' yang berarti berada di belahan selatan garis khatulistiwa.
Di sebelah Utara
Kabupaten Tegal dan Pemalang, Gunung Slamet
Di sebelah Selatan
Kabupaten Cilacap
Di sebelah Barat
Kabupaten Brebes dan Cilacap
Di sebelah Timur
Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara dan Kebumen
 Batas-batas Kabupaten Banyumas adalah : 

Luas wilayah Kabupaten Banyumas sekitar 1.327,60 km2 atau setara dengan 132.759,56 ha, dengan keadaan wilayah antara daratan & pegunungan dengan struktur pegunungan terdiri dari sebagian lembah Sungai Serayu untuk tanah pertanian, sebagian dataran tinggi untuk pemukiman & pekarangan, dan sebagian pegunungan untuk perkebunan dan hutan tropis terletak dilereng Gunung Slamet sebelah selatan. Bumi & kekayaan Kabupaten Banyumas masih tergolong potensial karena terdapat pegunungan Slamet dengan ketinggian puncak dari permukaan air laut sekitar 3.400M & masih aktif. Keadaan cuaca & iklim di Kabupaten Banyumas karena tergolong di belahan selatan khatulistiwa masih memiliki iklim tropis basah. Demikian Juga karena terletak di antara lereng pegunungan jauh dari permukaan pantai/lautan maka pengaruh angin laut tidak begitu tampak, namun dengan adanya dataran rendah yang seimbang dengan pantai selatan angin hampir nampak bersimpangan antara pegunungan dengan lembah dengan tekanan rata-rata antara 1.001 mbs, dengan suhu udara berkisar antara 21,4° C - 30,9° C.

Peta Kabupaten Banyumas:
Dari segi topografi, Kabupaten Banyumas memiliki relief beraneka ragam yaitu dataran rendah dan dataran tinggi. Di wilayah bagian barat, utara dan sepanjang aliran Sungai Serayu merupakan daerah subur. Wilayah ini sangat baik untuk daerah pertanian dan perkebunan. Dataran ini merupakan dataran tinggi dengan puncaknya di sebelah utara yaitu Gunung Slamet. Kemudian untuk dataran rendahnya terletak di wilayah Banyumas bagian selatan yang merupakan daerah rawan banjir dan mempunyai tanah kurang subur.
Secara fisik, landform di Kabupaten Banyumas dapat dikelompokkan menjadi grup dataran aluvial, perbukitan tektonik, marin, karst dan volkan. Masing-masing landform terdeskripsi dengan sifat karakteristik biogeofisik yang beragam dan mempunyai potensi pengembangan yang berbeda.
Grup volkan seluas kurang lebih 39.802 ha atau sekitar 29.98 persen dari luas wilayah, menempati bagian utara dengan puncak kerucut volkan di Gunung Slamet. Potensi kesuburan berkisar antara sedang sampai dengan tinggi dengan faktor pembatas kecuraman lereng dan tingginya curah hujan tahunan (lebih dari 3.000 mm per tahun).
Grup Marin seluas kurang lebih 1.246 ha atau sekitar  0,94 persen dari wilayah dan menempati bagian selatan, terutama di wilayah yang berbatasan dengan Kecamatan Nusawungu Kabupaten Cilacap. Potensi kesuburannya sedang sampai rendah dengan faktor pembatas drainase dan kemungkinan terjadinya banjir musiman, serta rendahnya kandungan fosfat. Grup karst seluas kurang lebih 479 ha atau sekitar 0,36 persen luas wilayah berada di wilayah Kecamatan Ajibarang atau tepatnya sekitar Desa Darmakradenan dan sedikit di Desa Karangkemojing Kecamatan Gumelar. Potensi kesuburannya sedang sampai sangat tinggi dengan faktor pembatas kedalaman solumn dan kelerengan.
Grup Perbukitan Tektonik menempati wilayah sekitar 44 persen dari luas wilayah atau kurang lebih seluas 58.414 ha. Perbukitan ini merupakan rangkaian pegunungan Serayu Selatan dengan posisi sebagian besar berada di bagian tengah wilayah Kabupaten Banyumas. Potensi kesuburannya sangat beragam yaitu mulai dari sangat rendah, sampai tinggi. Potensi kesuburan tinggi sampai sedang dijumpai pada landform dataran tektonik, dispresi siklin dan punggung antiklin yang secara fisik wilayah ini berbatasan langsung dengan landform volkan.
Keanekaragaman ini memungkinkan Kabupaten Banyumas memilik potensi dan keunggulan sumberdaya alam yang sampai saat ini belum semuanya digali dan dimanfaatkan.
Dibandingkan dengan kabupaten lain di bagian barat Propinsi Jawa Tengah, Kabupaten Banyumas memiliki lokasi yang sangat strategis karena berada pada titik simpul persimpangan dengan kabupaten-kabupaten yang bersebelahan. Kondisi ini didukung dengan infrastruktur jalan dan jembatan yang memadai, sistem telekomunikasi dan prasarana lainnya seperti banyaknya lembaga pendidikan dan lembaga keuangan yang memungkinkan Kabupaten Banyumas sebagai pusat pengembangan budaya dan ekonomi di Jawa Tengah bagian barat selatan. 
B.     Kependudukan Kabupaten Banyumas
Wilayah Kabupaten Banyumas terbagi menjadi 27 kecamatan dengan jumlah desa/kelurahan 329 desa dengan jumlah penduduknya pada tahun 2000 berjumlah 1.471.356 jiwa. Angka pertumbuhan penduduk rata-rata 0,78 persen. Dari 27 kecamatan, jumlah penduduk tertinggi di Kecamatan Cilongok sebanyak 104.277 jiwa dan kecamatan dengan penduduk terendah di Kecamatan Somagede dengan jumlah penduduk 33.043 jiwa. Mata pencaharian pokok sebagian besar sebagai petani yaitu kurang lebih sekitar 49 persen dari populasi angkatan kerja produktif.
Kepadatan penduduk Kabupaten Banyumas meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Jika pada tahun 1994 kepadatan Kabupaten Banyumas sebesar 1.057 jiwa/km2 maka pada tahun 1999 menjadi 1.107 jiwa/km2 dengan kepadatan tertinggi di Kecamatan Purwokerto Timur sebesar 7.385 jiwa/km2 dan terendah di Kecamatan Lumbir sebesar 429  jiwa/km2.
Berdasarkan angka kelahiran dan kematian, maka penduduk Kabupaten Banyumas yang lahir cenderung menurun lebih besar dibanding yang mati. Jika tingkat kelahiran menurun rata-rata 1.53 persen pertahun maka tingkat kematian menurun hanya 1.08 persen per tahun.
Penduduk Kabupaten Banyumas berdasar tingkat pendidikannya 80.61 persen masih berpendidikan SD/sederajat kebawah atau tidak/belum pernah sekolah, 11,17 persen berpendidikan SLTP, 7,29 persen berpendidikan SLTA dan 0.93 persen berpendidikan tinggi.
Mengenai Keadaan Perekonomian masyarakat, PDRB Kabupaten Banyumas pada Tahun 1999 atas dasar harga konstan 1993 sebesar Rp 988.05 miliar. Nilai ini lebih tinggi dibanding tahun 1998 yang mencapai Rp 983.56 miliar. Selama kurun waktu 1993 - 1999, PDRB Kabupaten Banyumas atas dasar konstan 1993 hanya mengalami kenaikan 1,13 kali. Perekonomian Kabupaten Banyumas masih didukung oleh sektor pertanian, yang rata-rata menyumbangkan 28 persen dari PDRB Kabupaten Banyumas. Disamping pertanian, sektor industri, perdagangan dan jasa merupakan penyumbang yang cukup besar terhadap PDRB Kabupaten Banyumas.
C.     Adat Istiadat di Kabupaten Banyumas
  1. Begalan
Begalan merupakan sebuah kesenian tradisional warisan budaya leluhur asli daerah Banyumas, lazim dipertunjukkan melengkapi upacara adat pernikahan. Namun tidak semua acara adat pernikahan "disuguhi" seni tradisi Begalan. Yang sudah menjadi tradisi keharusan disuguhi seni tradisi Begalan bila acara pernikahan anak sulung mendapatkan anak sulung, anak sulung mendapatkan bungsu, atau anak bungsu dinikahkan anak bungsu. Tahun 1960-an seni tradisi Begalan menjadi prima­dona, terutama masyarakat yang masih taat dan menjunjung tinggi terhadap adat.
Di dalam seni tradisi Begalan ada nuansa yang terkandung di dalamnya, yaitu, wejangan dari sesepuh selain di dalamnya ter­kandung pesan atau wejangan yang ditujukan kepada mempelai pasangan pe­ngantin. Namun dengan pengaruh perkembangan kesenian yang kian instan, acara Begalan sudah kian jarang dilakukan pada upacara pernikahan di Ka­rsidenan Banyumas.
Kata "Begalan" berasal dari bahasa Jawa, artinya perampokan. Dalam penya­jiannya memang terjadi dialog sesuai dengan le­genda. Syahdan, pada saat putri bungsu Adipati Wira­saba (Kec. Bukateja, Kab. Purbalingga) hendak dinikahkan dengan putri sulung Adipati Banyumas Pangeran Tirtokencono. Begalan wajib dilaksanakan. Sebab bila tata cara ini tidak diindahkan, dikhawatirkan bakal terjadi bencana atau musibah. Bencana bisa menimpa kedua mempelai dalam mengarungi bahtera hidup berumah tangga. Tradisi Begalan di dalamnya sangat dipercaya mengandung kekuatan gaib dan unsur Irasional.

  1. Sadranan
Sadranan atau nyadran yaitu rangkaian kegiatan keagamaan yang sudah menjadi tradisi yang dilakukan dibulan Syakban (Ruwah) menjelang bulan Ramadhan. Zaman dulu acara sadranan dilakukan sebagai pemujaan kepada leluhur juga kepada arwah leluhur sebab dipercaya jika arwah leluhur yang sudah meninggal itu sebenarnya masih hidup didunia. Upacara sadranan jaman dulu menggunakan ubarampe (sesaji) seperti sesaji makanan yang tidak enak dimakan, contohnya daging yang masih mentah, darah ayam, kluwak, dan lain-lain. Upacara nyadran biasanya diawali dari kegiatan bersih makam para leluhur dan saudara yang sudah meninggal yang dilakukan dari pagi sampe menjelang shalat dzuhur. Kemudian dilanjutnya dengan berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan kerabat yang masih hidup juga mengiri m doa untuk ketentraman arwah kerabat yang sudah meninggal. Yang terakhir yaitu kenduren (selametan) yaitu membagikan makanan kepada tetangga dekat.
  1.  Cowongan
Cowongan adalah suatu sarana untuk mengungkapkan keinginin masyarakat akan turunnya hujan. dalam peaksanaan cowongan terdapat 2 hal penting yaitu aktivitas seni dan bentuk ritual tradisionalyang menjadi sarana komunikasi antara manusia dengan alam yang bertujuan untuk mendatangkan hujan. Disebut sebagai aktivitas seni karena didalamnya terdapat syair-syair yang tidak lain adalah doa-doa yang dilakukan dalam bentuk tembang, irus atau siwur yang menjadi properti upacara yang dihias menyerupai seorang putri. Doa-doa tersebut ditujukan kepada sang penguasa alam agar hujan segera turun. Disebut sebagai ritual tradisional karena di dalamnya terdapat sesaji-sesaji, properti-properti, rialat dan doa-doa yang kesemuanya ditujukan sebagai suatu permohonan kepada penguasa seluruh alam agar segera menurunkan hujan.













BAB III
ASAL MULA TERJADINYA BANYUMAS

Kabupaten Banyumas berdiri pada hari Jum’at Kliwon, 6 April 1582 atau 12 Rabiul Awal 990 H. yang kemudian ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten tingkat II No.2 Tahun 1990. Kadipaten Banyumas yang pertama berada di kecamatan Banyumas sendiri. Konon pada saat terjadi banjir besar di sungai Banyumas (Serayu) kadipaten banyumas tersebut menjadi tempat untuk berlindung masyarakat tepatnya di pendopo si Panji. Pada tanggal 1 januari 1937, kadipaten Banyumas dipindah ke Purwokerto melalui Semarang karena Kayu Mas yg penjadi saka guru dipendopo si panji tersebut tidak boleh melewati sungai serayu.
a.       Sinopsis
Riwayat Djoko Kahiman atau Raden Djoko Semangoen atau Adipati Mrapat adalah putra Raden Harjo Banyaksosro, Adipati Pasir Luhur yang sejak kecil diasuh dan diambil anak angkat oleh Kyai dan Nyai Mranggi Semoe di Kejawar. Kyai Mranggi sebenarnya namanya adalah Kyai Sambarta dan Nyai Mranggi adalah Nyai Ngaisah.
Setelah Raden Djoko Kahiman dewasa lalu mengabdikan dirinya pada Kyai Adipati Wirasaba yang bernama Adipati Wargo Oetomo I dan akhirnya Raden Djoko Kahiman menjadi menantu Wargo Oetomo I, dinikahkan dengan putri sulungnya yang bernama Rara Kartimah.
Suatu ketika Adipati Wirasaba mendapat titah Sultan Pajang agar mempersembahkan salah seorang putrinya untuk dijadikan garwa ampean. Oleh Sang Adipati dipersembahkan putri bungsunya yang bernama Rara Soekartiyah, yang pada masa kecilnya pernah dijodohkan dengan putra saudaranya yaitu Ki Ageng Toyareka, namun setelah dewasa Rara Soekartiyah menolak untuk berumah tangga dan bercerai sebelum berkumpul.
Sakit hati Ki Ageng Toyareka kemudian membuat fitnah yang menyebabkan murka Sultan Pajang dan menyuruh Gandek supaya membunuh Adipati Wirasaba dalam perjalanan pulang tanpa penelitian terlebih dahulu. Tetapi sesudah diteliti menyesallah Sultan Pajang, kemudian menyuruh Gandek untuk menyusul Gandek terdahulu supaya membatalkan rencana membunuh Adipati Wargo Oetomo I (Adipati Wirasaba), namun sudah terlambat. Tempat terjadinya di Desa Bener, maka Adipati Wargo Oetomo I juga terkenal dengan sebutan Adipati Sedo Bener, sedangkan makam beliau di pasarehan Pakiringan, sebelah timur kota Banyumas, sekarang masuk wilayah Purworejo, Klampok.
Penyesalan Sultan Pajang kemudian menitahkan memanggil putra Adipati Wirasaba supaya menghadap ke Kesultanan Pajang, namun semua putra Wargo Oetomo I (Adipati Wirasaba) tidak ada yang berani menghadap, akhirnya dengan jiwa heroik dan patriotis karena anggapannya akan dibunuh juga, berangkatlah Raden Djoko Kahiman menghadap Sultan Pajang. Di luar dugaan Raden Djoko Kahiman malah diangkat menjadi Adipati Wirasaba VII dengan gelar Adipati Wargo Oetomo II untuk menggantikan Adipati Wargo Oetomo I yang telah wafat karena kesalahpahaman. Sultan Pajang memberikan segala kebijaksanaan Kadipaten Wirasaba kepada Wargo Oetomo II.
Dengan kebesaran jiwanya Adipati Wargo Oetomo II (Raden Djaka Kaiman) tidak ingin mementingkan dirinya sendiri (mukti sendiri), karena beliau adalah anak mantu, maka mohon restu agar diperkenankan untuk membagi daerah kekuasaan Wirasaba menjadi 4 daerah.
Sekembalinya dari Pajang maka Raden Djoko Kahiman yang telah diangkat menjadi Adipati Wirasaba VII, beliau membagi daerah kekuasaannya menjadi empat, yaitu :
 1. Banjar Pertambakan diberikan kepada Kjai Ngabehi Wirojoedo.
 2. Merden diberikan kepada Kjai Ngabehi Wirokoesoemo.
 3. Wirasaba diberikan kepada Kjai Ngabehi Wargowidjojo.
 4. Sedangkan beliau merelakan kembali ke Kejawar dengan maksud mulai membangun pusat pemerintahn yang baru.
Sekembalinya Raden Djaka Kaiman dari Pajang, Beliau membabad hutan mangli yang berada di Kejawar untuk dijadikan pusat pemerintahan yang selanjutnya diberi nama Kadipaten Banyumas. Raden Djaka Kaiman yang bergelar Kanjeng Adipati Warga Utama II itu kemudian dikenal dengan sebutan Adipati Mrapat karena kebijaksanaan Beliau kepada saudara-saudara iparnya untuk membagi kadipaten menjadi 4.
Asal mula nama Banyumas ada dua versi yaitu :
1.      Hutan Mangli di daerah Kejawar sebagai tempat pertama dibangunnya pusat pemerintahan Adipati Wargo Oetomo II (Djoko Kahiman / Adipati Mrapat) setelah meninggalkan Wirasaba.
Menurut riwayat yang juga dipercayai masyarakat, beliau menerima wisik supaya pergi ke suatu tempat tumbuhnya pohon Tembaga. Di hutan Mangli inilah diketemukan pohon Tembaga yang dimaksud yaitu di sebelah Timur pertemuan sungai Pasinggangan dan sungai Banyumas. Kemudian mulailah dibangun tempat tersebut sebagai pusat pemerintahan dengan dibiayai oleh Kjai Mranggi Semu di Kejawar.
Ketika sedang sibuk-sibuknya membangun pusat pemerintahan itu, kebetulan pada waktu itu ada sebatang kayu besar hanyut di sungai Serayu. Pohon tersebut namanya pohon Kayu Mas yang setelah diteliti berasal dari Desa Karangjambu (Kecamatan Kejobong, Bukateja, Kabupaten Purbalinga), sekarang sebelah timur Wirasaba. Anehnya kayu tersebut terhenti di sungai Serayu dekat lokasi pembangunan pusat pemerintahan. Adipati Marapat tersentuh hatinya melihat kejadian tersebut, kemudian berkenan untuk mengambil Kayu Mas tersebut untuk dijadikan Saka Guru. Karena kayu itu namanya Kayu Mas dan hanyut terbawa air (banyu), maka pusat pemerintahan yang dibangun ini kemudian diberi nama Banyumas (perpaduan antara air (banyu) dan Kayu Mas)).
2.      Ketika Raden Djaka Kaiman akan membangun pusat pemerintahan (sekarang menjadi Kantor Kecamatan Banyumas), Beliau meninjau atau berkeliling daerah tersebut. Tiba-tiba tepat dibagian belakang Kadipaten tesebut beliau melihat ada cahaya emas dari sebuah sendang. Konon cahaya tersebut merupakan pantulan dari sinar matahari yang mengenai genangan air. Sendang tersebut sampai sekarang masih utuh dan dinamai Sumur Mas. Pada saat itu Beliau menamai Kadipaten tersebut Banyumas yaitu dari kata Banyu (air yang berasal dari sendang) dan Mas (pantulan cahaya yang mengenai air). Namun pada versi kedua ini belum ada kejelasan karena cerita ini didapat dari cerita mulut ke mulut.
b.      Tokoh Protagonis
1.      Raden Djaka Kaiman
Raden Djaka Kaiman adalah orang yang bijaksana, beliau tidak mau berkuasa sendirian maka beliau membagi kadipaten menjadi 4 bagian untuk saudara iparnya.
2.      Adipati Wirasaba
Mengangkat Raden Djaka Kaiman menjadi anak mantunya karena sudah mengabdi kepada Adipati Wirasaba.
3.      Kyai Mranggi
Kyai Mranggi dan istrinya Nyai Mranggi mengasuh Raden Djaka Kaiman dari kecil sampai dewasa
4.      Sultan Pajang
Mengangkat Raden Djaka Kaiman menjadi Adipati Wirasaba VII menggantikan Adipati Warga Utama I untuk menebus kesalahpahaman kepada Adipati Warga Utama I, dan memberikan seluruh kebijaksanaan Kadipaten Wirasaba kepada Raden Djaka Kaiman.
c.       Tokoh Antagonis
1.      Ki Ageng Toyareka
Memfitnah Adipati Wirasaba bahwa beliau tidak memberikan putri bungsunya untuk menjadi garwa ampean Sultan Pajang karena cintanya ditolak oleh anak bungsu Adipati Wirasaba.



BAB IV
KANDUNGAN NILAI LUHUR

A.    Nilai Kemanusiaan
1.      Cinta Kasih
-Raden Djaka Kaiman dinikahkan dengan putri sulung Adipati Wirasaba.
-Kyai dan Nyai Mranggi mau mengasuh dan mengambil Raden Djaka Kaiman sebagai anak angkatnya.
2.      Keindahan
Raden Djaka Kaiman membabad hutan mangli untuk dijadikan pusat pemerintahan yang diberinama Banyumas.
3.      Penderitaan
Adipati Wirasaba yang mati dibunuh oleh gandek dari Sultan Pajang akibat terkena fitnah Ki Ageng Toyareka.
4.      Harapan
Raden Djaka Kaiman membagi Kadipaten Wirasaba menjadi 4 bagian kepada saudara-saudara iparnya, beliau berharap agar tidak terjadi pertengkaran diantara mereka karena berebut kekuasaan.
5.      Keadilan
Setelah diangkat menjadi Adipati Warga Utama II, Raden Djaka Kaiman tidak mau berkuasa sendiri, ia membagikan kadipaten Wirasaba menjadi 4 bagian untuk saudara iparnya.

6.      Tanggung jawab
Karena merasa bersalah telah membunuh Adipati Wirasaba akibat fitnah, maka Beliau mengangkat Raden Djaka Kaiman menjadi Adipati Warga Utama II menggantikan Adipati Wirasaba.
7.      Kegelisahan
Saudara-saudara ipar Raden Djaka Kaiman tidak mau menghadap Sultan Pajang karena mereka takut akan dibunuh oleh Sultan Pajang.
8.      Pandangan Hidup
Raden Djaka Kaiman memberanikan diri untuk menghadap Sultan Pajang karena anggapanya, Beliau akan mati dibunuh oleh Sultan Pajang.
B.     Nilai Kemasyarakatan
1.      Mengenai cerita asal mula Banyumas, masyarakat Banyumas masih tetap menghormati dan menghargai peninggalan dan sejarah terjadinya Banyumas seperti menjaga dan merawat sumur mas dan menjadikan kayu mas sebagai saka guru di pendopo si Panji.
2.      Nilai gotong royong pada masyarakat Banyumas masih sangat terlihat kental misalnya pada upacara adat, kerja bakti yang dilakukan secara bersama-sama.
3.      Nilai kemanusiaan di Banyumas terlihat kental, itu terbukti jika antar masyarakat masih saling menjaga hubungan baik, saling menjaga sikap dan menghormati satu sama lainnya.
C.     Nilai kesusilaan
Ketika Ki Ageng Toyareka menyebar fitnah kepada Sultan Pajang bahwa Adipati Wirasaba tidak mau menyerahkan putri bungsunya untuk dijadikan garwa ampean Sultan Pajang. Sehingga Sultan Pajang marah dan menyuruh gandeknya untuk membunuh Adipati Wirasaba. Tindakan Ki Ageng Toyareka tersebut merupakan tindakan asusila yang dapat merugikan orang lain.

BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Semakin berkembangnya jaman, para generasi muda sudah mulai melupakan cerita rakyat daerah yang seharusnya wajib kita jaga dan lestarikan sehingga tidak hilang dimakan waktu. Cerita rakyat yang senantiasa diwariskan turun temuruan secara lisan disebut folklor. Jadi apabila tidak ada orang yang mengetahui sebuah cerita tentang suatu kejadian di masa lalu yang bisa diceritakan kepada anak turunnya, maka bisa dipastikan folklore yang dahulu ada dan berkembang di daerah tersebut akan hilang.
Oleh karena itu cerita sejarah asal mula Kabupaten Banyumas harus kita ketahui agar kelak bida diceritakan kepada anak cucu kita, sehingga mereka tidak miskin akan sejarah. Sehingga cerita terjadinya Banyumas ini tidak akan hilang dimakan usia dan akan tetap sama walopun sudah berganti generasi selanjutnya.
B.     Saran
Dari rangkaian cerita terjadinya Kabupaten Banyumas tersebut, maka kita harus tetap menjaga dan melestarikan cerita rakyat tersebut supaya kita tetap ingat dan tahu sejarah terjadinya suatu tempat dan bisa untuk menarik masyarakat luas untuk ikut mempelajarinya.
Kita juga bisa mengambil nilai-nilai yang ada dalam folklore tersebut dan memilah-milah tentang baik dan buruknya untuk kemudian mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari.




DAFTAR PUSTAKA

·         Purwadi. 2009. Foklor Jawa. Yogyakarta: Pura Pustaka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar